Aku Perempuan

Courtesy to Fineart America
Perempuan itu seperti orang yang kau temukan saat ini.

, tidak lebih dari itu! Diawal perkenalan, aku sudah.

memberikan identitasku, menyuguhkan senyum sebagai tanda bahwa aku bisa menerimamu sebagai teman ngobrol, sebagai sahabat. Dan seperti perempuan lainnya, kami tidak bisa dengan mudah mengadaptasi tatapan mata dari laki-laki yang menikam seakan menyelidiki kekurangan yang kami miliki. Aku merunduk seperti ini.

dan aku merasa nyaman, aku membutuhkan perasaan ini.

karena kau adalah orang baru,  belum ada memori dalam benakku yang menggambarkan bahwa kamu adalah  orang baik atau.

jahat? 

Malam ini.

lebih sepi dari malam-malam sebelumnya, mbak Irma, perempuan perkasa yang biasa duduk di atas kuburan sudah.

pergi entah kemana? apakah mungkin dia mendapatkan orderan untuk melayani hidung belang berkantong tebal? ataukah? ah, tidak! Semoga saja tidak! aku tidak mau membayangkan hal buruk terjadi padanya. Tidak mungkin Petugas Satpol sudah.

menangkapnya, membawanya ke tempat penampungan untuk kemudian dikumpulkan dengan Pekerja seks lainnya atau.

pun orang-orang yang tidak mempunyai identitas. Luka-luka di tangan dan kakinya  masih sering mengeluarkan darah segar! luka akibat jatuh menghindari  kejaran petugas yang melakukan razia tiga hari.

yang lalu. Sungguh aku mengkuatirkan mbak Irma, mengkuatirkan orang-orang di sekitarnya, mereka yang berbaik hati, yang mau membantu mengobati lukanya? luka dari orang yang sudah.

terinfeksi HIV?  Tidak! aku tidak mau memikirkan hal ini.

, karena aku  percaya Irma adalah perempuan perkasa! Kondisi fisiknya di atas rata-rata, gesit bagaikan anak rusa, dia mempunyai kepekaan luar biasa dalam menghindari bahaya! Artinya dia sekarang dalam keadaan aman!

Dalam diamku, aku mengejar bayang-bayang Irma, aku lupa bahwa saat ini.

aku tengah duduk bersanding dengan seorang pria asing! Aku dan laki-laki ini.

bermain dengan pikiran kami masing masing! Aku tidak tahu apa yang ada dalam benaknya, namun ketika tangannya menyentuh pundakku seketika itu pula lamunanku hilang. Aku tidak lagi berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi padanya atau.

kondom yang harus aku berikan pada mbak Irma. Aku harus mencari siasat untuk menghindari tangan usil dari pria berwajah ramah ini.

. Secara perlahan aku melepaskan  tangannya dari pundakku lalu bergeser sedikit posisi dudukku, untuk memperlebar jarak antara aku dan dia!

Pendidikan dan nilai budaya telah membesarkan naluriku untuk bersikap ramah pada sesama namun tetap menjaga norma dan martabatku sebagai perempuan. Engkau laki-laki asing, aku tidak mempunyai ikatan psikologis denganmu sehingga aku harus berdiri dan pergi! Percayalah padaku bahwa  perempuan hanya mampu bermesraan pada seorang laki-laki yang dia cintai, pada laik-laki yang mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan serta kasih sayang yang berkelanjutan. Terima kasih laki-laki asing engkau telah menemani pekerjaanku dalam  meningkatkan derajat kesehatan perempuan-perempuan yang melayani seks hidung belang di atas area pemakaman!

Leave a comment

Your email address will not be published.


*